pemimpin (yang belajar)

“L ‘honneur est la dernière richesse du pauvre,” kata eksistensialis Albert Camus. “Kehormatan adalah kekayaan terakhir orang miskin.”

Apa jadinya bila kehormatan ini diambil? Mungkin seperti Mohamed Bouazizi, pedagang kaki lima Tunisia yang mencoba bunuh diri, membakar dirinya setelah lapak dagangannya dirampas polisi. Aksinya ternyata berimbas luar biasa pada negaranya, bahkan mengubah sejarah dunia.

Di Jakarta, bunuh diri sempat muncul sebagai fenomena baru. Memang banyak faktor pemicu, namun stress karena kemiskinan yang diderita, menjadi salah satu faktor yang terungkap. Bahkan, bunuh diri tak lagi dilakukan diam-diam supaya tak ketahuan orang, beberapa malah melakukannya di mal, pusat keramaian. Pernah, dalam dua hari tiga orang mencoba bunuh diri.

Apakah ini imbas dari ucapan Camus tadi? Entahlah. Yang jelas, kekerasan juga makin marak di negeri ini. Kekerasan seolah menjadi saluran meluapkan beban akibat berbagai kesulitan hidup. Mulai dari hal olahraga hingga masalah agama, kekerasan menjadi junjungan yang tak jarang berujung kematian. Siapa mau disalahkan?

Kenyataan pahit ini harusnya membuat siapapun yang memiliki hati nurani berpikir. Apalagi para pemimpin negeri ini. Pasti mereka bergegas mempelajari: gerangan apa yang terjadi? Apakah benar orang-orang itu mau bilang, aku sudah tak punya kehormatan lagi karena itu aku bunuh diri atau berteriak lantang, “bunuh”?!

Sekali lagi, entahlah. Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Karena itu pemimpin harus mau belajar. Belajar dari berbagai peristiwa tadi, terutama belajar dari orang-orang yang dipimpinnya. Belajar tidak harus untuk menambah gelar di belakang namanya agar dianggap intelek. Untuk apa bila tak berguna?

Il n’y a pas une method unique pour etudier les choses. Tidak ada metode tunggal untuk belajar sesuatu, kata Aristoteles. Belajarlah apa saja, asal memberikan pengetahuan baru yang mendewasakan.

Kita semua –meski tanpa rakyat– adalah pemimpin. Paling tidak memimpin diri sendiri menjadi lebih baik lagi, dan tahu bagaimana menghormati orang lain. Kata filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer, kehormatan tidak harus menang, tetapi itu satu-satunya yang tak boleh hilang.

Advertisement

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 652 other followers