Hiatus

September 7, 2009 by gemaimaji

on Hiatus for preparing TA.

hiatus

Limited Edition

August 26, 2009 by gemaimaji

*oleh Wuryanano Raden

Dear All….

Anda pasti sudah sering baca atau dengar kalimat ini, Limited Edition! Apakah yang terpikir di benak Anda, saat Anda membaca atau mendengar “Limited Edition” ini? Yaa, pastilah Anda berpikir…waw, ini barang baik, bagus dan terbatas jumlahnya, wah, boleh juga tuh barang bisa buat gengsi pembelinya karena sangat terbatas jumlahnya. Ya… Limited Edition! sebuah kata yang memang memberikan kesan spektakuler positif, bergengsi, baik, bagus, dan sengaja dibatasi jumlahnya, sehingga tidak semua orang mempunyainya.

Stand Up for The Champions

August 15, 2009 by gemaimaji

Right Said Fred: Stand Up (For The Champions)

I was built to be the best
Number one and nothing less
Leave me to my destiny
I have waited patiently
I have vision’ oh I believe
I know I can count on me

Read the rest of this entry »

Cinta dalam Sepotong Kue Bolu

August 14, 2009 by gemaimaji

Bagiku cinta adalah berbagi sepotong kue bolu. Ia keluar tiba-tiba dari balik kotak bekal makan siang, serupa soda yang mendesak keluar ketika tutup botol coca-cola dilepaskan.

Ceritanya begini, sewaktu masih duduk di sekolah dasar, aku berkenalan dengan seorang anak perempuan. Aku tak perlu menyebut namanya, sebut saja Bunga (seperti dalam koran atau televisi, perempuan yang tak mau disebut namanya selalu dipaksa bernama Bunga, bukan?). Read the rest of this entry »

Everybody’s Happy in His Own Way

July 2, 2009 by gemaimaji

Seseorang ditanya tentang makna kebahagiaan. “Kebahagiaan adalah tawa,” katanya. Namun, ketika ia tertawa sendiri pada suatu pagi, saat istrinya baru saja dikuburkan minggu lalu, ia merasakannya sebagai tawa yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Tawa yang sepi. Tawa yang mengguncang. “Kebahagiaan adalah kebersamaan,” ujarnya lirih.

“Kebahagiaan adalah menemukan seseorang untuk kau peluk saat kau menangis—berbagi perih bersamanya. Dan, kesedihan adalah saat kau harus tertawa sendirian.”

Mungkin, pepatah itu benar. Mungkin juga tidak. Kebahagiaan sangat tergantung bagaimana kau berhasil memaknainya. Menjilat sebatang es krim coklat di tengah gurun mungkin saja kebahagiaan, tetapi tidak di tempat lain yang dingin. Memiliki banyak uang mungkin saja kebahagiaan yang tak terperikan saat kita baru saja keluar dari lubang jarum kemiskinan, tetapi tidak bagi mereka yang tak lagi memiliki banyak pilihan dengan tumpukan uang itu. Kebahagiaan sangat khas pada diri dan hidup setiap orang. Kebahagiaan sangat tergantung.

images Mungkin, situasi yang menentukan makna kebahagian itu, mungkin kehadiran seseorang yang lain, mungkin penantian yang panjang, atau mungkin justru kemungkinan-kemungkinan itu sendiri.

“Kebahagiaan adalah menemukan diri menjadi lebih bermakna di mata orang lain.” Begitu kata orang suci. Bila kau menolong, bila kau bersedekah, bila seseorang datang menghampirimu meminta bantuanmu, bila kau dinantikan dan dirindukan, bila ibumu-ayahmu-adikmu-atau-nenekmu menangis haru karena sesuatu yang membahagiakanmu, kau tentu berbahagia. Kebahagian tentu tidak berlaku bila kau berbuat jahat, bila kedatangmu disesalkan dan sama sekali tak diharapkan, bila orang-orang dekat disekelilingmu tak peduli pada apapun yang kau lakukan.

“Kapan pulang, Sayang? Ibu rindu padamu. Sehat ya, disana…,” kata seorang ibu dari balik telepon ketika menghubungi anaknya di luar negeri. Si anak menangis. Namun, air mata tak selamanya bermakna perih. Air mata itu adalah kebahagiaan, bahwa jauh di sana, ada seorang perempuan tua yang sangat menyayanginya dan menantikan kepulangannya. Si ibu juga menangis, tetapi tangis itu sejatinya adalah kebahagiaan; bahagia mendapati anaknya baik-baik saja dan menyelipkan seguman doa untuknya, ‘Ibu juga sehat, ya… Kakak baik-baik aja kok disini.”

Kebahagiaan tak semakna dengan uang, mobil mewah, atau rumah bertingkat. Kita mungkin tak memilikinya, tetapi tak berarti kita tak memiliki kebahagiaan. Kebahagiaan memiliki makna tersendiri yang khas. Setiap orang memiliki kebahagiannya sendiri-sendiri. Everybody’s happy in his own way….